জাতীয় সঙ্গীত
জাতীয় সঙ্গীত
dachel103@teml.net December 11, 2025

Café Museum: Sebuah Ikon Budaya dan Sejarah Arsitektur di Jantung Wina

Café Museum: Sebuah Ikon Budaya dan Sejarah Arsitektur di Jantung Wina

Café Museum, terletak di Operngasse 7, Wina, Austria, adalah salah satu kafe tradisional Wina yang paling terkenal dan bersejarah. Didirikan pada tahun 1899, kafe ini bukan hanya tempat untuk menikmati kopi yang lezat, tetapi juga sebuah institusi budaya yang mendalam, diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sebagai bagian dari budaya kedai kopi Wina secara keseluruhan. Gambar yang disajikan menangkap suasana eksterior kafe yang khas, di mana para tamu menikmati waktu luang mereka di area tempat duduk luar ruangan yang dikenal sebagai “Schanigarten”, sebuah tradisi musim panas di Wina.

Kafe ini mendapatkan namanya dari kedekatannya dengan berbagai institusi seni, termasuk Gedung Secession dan Museum https://zeytincafemenu.com/ Kunsthistorisches. Sepanjang sejarahnya, Café Museum telah menjadi titik pertemuan penting bagi para seniman, penulis, dan intelektual terkemuka Wina, termasuk Gustav Klimt, Egon Schiele, Oskar Kokoschka, Karl Kraus, dan Adolf Loos sendiri.

Sejarah dan Evolusi Arsitektur

Sejarah arsitektur Café Museum ditandai oleh dua periode desain yang berbeda dan ikonik.

Era Adolf Loos (1899)

Interior asli kafe dirancang oleh arsitek modernis ternama Adolf Loos, yang baru saja kembali dari Amerika dan London. Desain Loos pada saat itu dianggap revolusioner karena kesederhanaan dan fungsionalitasnya yang ekstrem, sangat kontras dengan gaya plush yang lazim pada masa itu. Ia menggunakan kursi kayu lentur Thonet yang sederhana dan minim ornamen, membuat kritikus Ludwig Hevesi menjulukinya “Café Nihilismus” (kafe nihilisme). Meskipun memicu kontroversi, desain ini justru menarik perhatian para seniman dan intelektual yang menjadikannya tempat favorit mereka.

Era Josef Zotti (1931)

Pada awal 1930-an, arsitek Josef Zotti, seorang murid Josef Hoffmann, merancang ulang interiornya untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman dan seperti “ruang tamu”. Zotti memperkenalkan sofa setengah lingkaran berlapis kulit merah (sekarang beludru merah) dan lampu gantung bola perak, menciptakan suasana cozy yang bertahan selama lebih dari 70 tahun. Perabotan asli dari era Zotti ini bahkan ada yang dipamerkan di Koleksi Furnitur Kekaisaran Wina.

Pada tahun 2003, renovasi mencoba mengembalikan desain asli Loos, tetapi tidak disukai oleh pelanggan tetap Wina karena dianggap kurang otentik dan tidak nyaman, yang menyebabkan penutupan kafe pada tahun 2009.

Era Kontemporer

Kafe ini dibuka kembali pada tahun 2010 oleh keluarga Querfeld, pemilik kafe yang penuh semangat, yang memutuskan untuk mengembalikan interior sesuai desain Zotti, menciptakan suasana “abadi” yang dinikmati para tamu saat ini. Interior saat ini menampilkan perpaduan elemen klasik, termasuk meja marmer dan kursi Thonet, menciptakan suasana yang elegan dan kasual secara bersamaan.

Suasana dan Pengalaman

Gambar tersebut menunjukkan eksterior kafe yang ramai, dengan meja dan kursi berjejer di sepanjang trotoar di bawah kanopi bertuliskan “CAFE MUSEUM” dalam huruf emas. Pohon besar di sebelah kanan memberikan naungan alami, sementara bangunan bergaya klasik Wina yang dicat kuning muda menjadi latar belakang.

Di dalam, suasananya tetap mempertahankan pesona dunia lama, dengan pencahayaan lembut dari lampu bola perak yang khas. Pelayan, sering kali mengenakan tuksedo, menyajikan kopi dan kue khas Austria, seperti Kaiserschmarrn dan strudel apel. Budaya kedai kopi Wina terkenal karena memungkinkan pelanggan untuk berlama-lama selama berjam-jam, membaca salah satu dari banyak surat kabar yang tersedia, atau hanya menikmati suasana, dengan segelas air dingin yang menyertai setiap pesanan kopi secara cuma-cuma. Tempat ini juga kadang-kadang menyelenggarakan pembacaan sastra dan pertunjukan musik piano, melanjutkan tradisi kafe sebagai pusat budaya.

Secara keseluruhan, Café Museum adalah perwujudan dari budaya kedai kopi Wina, menawarkan perpaduan unik antara sejarah seni yang kaya, arsitektur yang bergejolak, dan suasana ramah yang menjadikannya “ruang tamu yang diperluas” bagi penduduk lokal dan turis.